sisi pelangi chapter IIIa

Tiap hari gue lalu dengan gelisah. Bukan tanpa alasan semua kegelisahan ini. Semuanya karena kedekatan Arie dengan Juwita.

Seperti yang gue takutkan, lama kelamaan Arie pasti bisa menaklukkan Juwita. Semua itu seiring dengan semakin sedikit waktu yang gue habiskan bersama dia. Tentu saja. Arie lebih banyak menghabiskan hari bersama cewek yang mampu menggetarkan perasaannya dari pada bersama gue yang cuma teman dekatnya.

Gue paham kondisi ini, tapi gue nggak bisa menerima. Rasanya menyesakkan. Tapi mau nggak mau, gue harus menelan semua perasaan ini.

***

***Johan***

Kutatap ruang keluarga yang kosong dari samping pintu.

Sunyi.

Namun, sisa kehangatan yang Mama dan Papa tinggalkan masih terasa.

Ya. Kedua orang tuaku baru beberapa menit yang lalu meninggalkan ruangan ini. Akhirnya mereka benar-benar pindah ke rumah Kak Reno.

Aku menghela nafas. Rasa sedih sedikit menyapa hatiku. Apalagi saat aku memikirkan hari-hari esok, di rumah ini cuma ada aku. Nggak akan ada lagi sambutan Mama atau Papa saat aku pulang kuliah. Hmm… Aku juga bakalan rindu berebut remote TV sama Mama setiap sore. Rindu juga candaan Papa, omelan Mama dan everything about them.

Aku beranjak ke kamar. Tujuanku… Tidur. Nggak tahu mesti ngapain.

***

***Mario***

“Wah, traktiran dong…” ucap gue seceria mungkin seusai Arie memberitahukan status barunya sebagai pacar Juwita. “Amaaannn…! Elu mau makan apa? Hahaha…!”
Gue tersenyum.
“Elu kapan punya pacar, Bray?” tanya Arie.
“Gue? Sampai ada yang sanggup membuat gue bertekuk lutut,” jawab gue diplomatis.
“Eh, elu mau gue kenalin sama teman-temannya Juwi nggak? Cantik-cantik lho, Bray…” Gue tersenyum.
“Kan asyik kalo kita bisa double date, ya nggak?”
Lagi-lagi gue tersenyum karena tak tahu harus jawab apa.
“Kalo elu mau, sepulang sekolah gue mau jemput Juwi di sekolahnya. Kita sama-sama kesana,” ajak Arie. “Nggak usah, gue bisa cari sendiri,” tolak gue.

***

“Good Day, Everybody…!”

Gue terkejut melihat siapa yang datang.

“Saya guru pengganti Mister Jo. I’am Ana,” terang wanita berjilbab itu.

Gue mengerutkan kening lalu menoleh ke Arie.

“Mister Jo kemana?” tanya gue ke Arie.
“Dia nggak ngajar kita lagi. Dia cuma mengajar dua bulan, selebihnya Miss. Ana ini yang menggantikan,” terang Arie.

Gue terdiam sejenak.

“Kok gitu?” tanya gue lagi.
Arie mengangkat bahunya.

Tiba-tiba gue teringat ucapan gue ke Mister Jo di Squire beberapa waktu lalu.

Akh, nggak mungkin dong itu penyebabnya?

***

***Johan***

pukul 18.39

Aku baru saja selesai menutup tirai jendela saat terdengar pintu diketuk. Akupun kembali ke ruang tamu.

Saat pintu dibuka, di depanku berdiri Mario dengan pakaian sekolah dan tampak kacau.

“Mario? Ada apa?” tanyaku.
Ia sempoyongan dan berpegangan ke kusen pintu.
Aku mengerutkan kening. Ada apa dengan anak ini?
Ia melepaskan helm-nya dengan susah payah.
“Mister…” desisnya.
“Ya? Kamu kenapa?”
“Gue…aduhhh…” Mario memejamkan matanya seakan tengah menahan pusing.

Ada yang tak beres sepertinya. Aku langsung memegang tubuhnya dan mendudukkannya di kursi teras.

Mario langsung bersandar dengan lemas. Aku menatap wajahnya. Ia menatapku dengan sayu.

“Mister tersinggung ya?” tanya Mario tiba-tiba.

Aku langsung menjauhkan wajahku dari mulutnya. Nafasnya begitu menyengat. Akupun tersandar apa yang menyebabkan kondisi Mario seperti ini.

“Mario! Kamu mabuk ya?!” seruku.
“Nggak kok…”

Gue langsung menariknya untuk berdiri. Setelah itu aku langsung membawanya masuk. Aku tak ingin ada Tetangga yang melihat kondisinya. Bisa-bisa mereka salah paham dan melapor ke Mama-Papa.

“Mister nggak ngajar lagi karena gue?”

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku menidurkannya ke kasur santai di depan TV. Jujur aku bingung bagaimana menangani orang yang mabuk. Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang mabuk dan tak ada pengamalan soal ini. Akhirnya aku meminta bantuan Mbah Google.

Dari salah satu blog, aku mengetahui 4 jenis makanan yang bisa mengatasi mabuk alkohol. Diantaranya Buah-buahan, Yoghurt, madu, roti panggang dan Jahe. Dari keempat jenis itu, yang paling mudahku dapatkan hanya buah-buahan.

Aku langsung menuju dapur dan mengambil Jeruk di kulkas. Ternyata ada madu juga. Alhasil Jeruk itu kubuat jus dan kucampurkan madu juga.

Saat aku menemui Mario, anak itu masih berbaring dengan mata terpejam.

“Yo, minum ini,” kataku sambil membantunya bangun.
“Eeng… ”
Aku menyodorkan gelas jus ke dekat bibirnya.
“Apa? Nggak…” ia menjauhkan mulutnya.
“Buruan minum supaya kamu cepat pulih,” paksaku sambil memegang kepalanya.
Mario menuruti perintahku. Kupaksa ia meminum jus itu sampai habis.

Setelah menenggak habis jus buatanku, Mario kembali berbaring. Aku menatapnya cermat. Berharap jus itu bereaksi cepat.

Mario memejamkan matanya sambil sesekali mendesis tak jelas disertai mimik seperti menahan pusing.

Tiba-tiba aku teringat motor Mario yang masih di luar. Aku buru-buru keluar dan memasukkan motor, dan helmnya yang tergeletak di lantai ke dalam garasi.

Saat aku kembali ke ruang keluarga, kondisi Mario masih seperti tadi. Ia beberapa kali terbatuk dan hidungku kembali mencium bau alkohol, meskipun tidak sepekat tadi.

Aku berinisiatif untuk melepaskan bajunya. Mungkin saja bau alkohol yang melekat di bajunya itu membuat nafasnya sesak. Mungkin.

Aku langsung memasukkan baju dan singletnya ke dalam mesin cuci. Setelah itu aku mengambil T-shirt tipis dan memakaikannya ke Mario. Saat ini keadaannya sudah membaik. Nafasnya juga sudah terdengar teratur dan ia tidur dengan nyenyak. Aku mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: