sisi pelangi chapter III

Chapter III

***Johan***

pukul 12.10, 11/12/2012

Aku bersama Mama pergi ke squire untuk belanja. Ini sih sebenarnya paksaan Mama. Beliau ingin membeli seluruh kebutuhanku sebelum benar-benar pindah ke luar kota bersama Kak Reno.

Sebenarnya aku menolak. Aku bisa beli sendiri. Tapi Mama bersihkeras ingin menghabiskan waktu dengan belanja bersama.

“Biar nggak repot, beli kebutuhanmu itu perbulan aja,” pesan Mama.

Saat itu kami berdua tengah menyusuri rak demi rak aneka cemilan. Mama yang memilih belanjaan, sementara aku yang mendorong trolley belanjaan.

“Kamu juga jangan sering-sering makan mie instan,” pesan Mama lagi. “Iya, Ma…”
“Terus seminggu sekali isi kulkas di cek, dibersihin kulkasnya…” “Kalo malas masak air, beli air galonan aja…”
“Itu juga, kembang-kembang Mama jangan lupa disiram…”
“Emang kembangnya nggak Mama bawa?” tanyaku.
“Kembang-kembang kesayangan aja. Selebihnya biarin di sini. Repot juga bawa-bawa kembang. Lagian di sana Mama bisa beli lagi…” Aku mangut-mangut.
“Kalo malas cuci pakaian, bawa aja ke binatu. Terutama bed cover, selimut, sarung bantal… Bawa aja ke Binatu “Mewangi” tuh, di dekat Masjid Al-Falah. Biayanya dihitung perkilo…” cerocos Mama.
“Oh, ya, sekarang ini musim penghujan, kadang-kadang disertai petir, jangan lupa barang-barang elektronik, TV, Radio semuanya dimatiin. Itu, punya Bude Ice, semalam TV-nya rusak kesamber petir…” Aku mengangguk.
“Kamu juga jangan suka telat makan. Percuma terus olahraga kalo asupan tubuhnya kurang,” gerutu Mama sambil menatap tajam ke arahku. Aku mengangguk.
“Oh, ya, kamu tunggu di sini, ya. Mama mau beli nugget dulu.” “Jo tunggu di sini?”
“Iya, tunggu di sini aja. Troli-nya udah penuh, kesian kamu dorongnya,” jawab Mama sambil berjalan.
Aku mangut-mangut sambil meneliti belanjaan yang hampir segunung. Haduuhh, Mama beli apa aja sih? Kebutuhanku nggak sebanyak ini.
Sambil menunggu Mama, aku memperhatikan orang yang lalu-lalang di sekitar. Lalu tak sengaja tatapanku tertumpu pada seseorang—Mario—yang tengah berjalan gontai sambil memainkan ponselnya.

Hmm, mungkin aku bisa menanyakan alasan kenapa dia nggak hadir saat les kemarin.

“Mario…!” teriakku.
Awalnya ia tak nendengar. Tapi setelah teriakan kedua, ia langsung menoleh mencari sumber suara.

Saat melihatku, tatapannya yang dingin itu semakin dingin.

“Mister?” gumamnya saat menghampiriku. “Ada apa?”
“Belanja juga?” tanyaku.
Ia mengangguk.
“Sama kalo gitu. Hmmm, kemarin kamu nggak les-kan? Gimana urusannya, udah kelar?” Mario menatapku sekilas.
“Sudah.”
“Baguslah. Kamu bisa tanya soal materi les semalam sama teman-teman yang lain. Arie atau yang lainnya,” pesanku. Ia mengangguk.
“Kakak harap selanjutnya kamu selalu bisa mengikuti kegiatan les. Kakak juga minta maaf kalo selama mengajar kalian, ada yang nggak berkenan. Karena sepertinya hubungan guru dan murid antara Kakak sama Kamu nggak begitu baik. Saya harap itu cuma perasaan saya saja,” kataku.
“Mungkin memang ada benarnya. Gue merasa risih setiap teman-teman gue selalu membicarakan tentang Mister. Para cewek pada lebay. Gue nggak tahu apakah kehadiran mereka saat les itu benar-benar ingin mendapat materi lebih, atau cuma pengen melihat tampang Mister aja.”
Aku menelan ludah. Kata-katanya meluncur begitu saja, tanpa disaring terlebih dulu. Tapi aku berusaha mengambil sisi positifnya. Mungkin apa yang dikatakannya benar, mengingat bagaimana centilnya Kenanga and the gank setiap bertemu denganku. Aku tersenyum.
“Thanks atas pandanganmu itu, Yo. Kakak harap, mereka benar-benar ingin mendapatkan ilmu. Tapi kalaupun kehadiran mereka hanya ingin bertemu Kakak, yahh.. Kakak cuma bisa berharap, semua itu menjadi semangat mereka buat tetap les. Bukannya motivasi itu sangat pentingkan? Kakak pengen jadi motivasi kalian…” Mario tersenyum kaku.
“Ya sudah. Gue mau belanja dulu,” pungkas Mario.
Aku mengangguk.

***

***Mario***

Gue sedikit menyesali ucapan gue barusan ke Mr. Pai-Jo. Kok gue bisa nggak sopan gitu ya?

Gue lagi bad mood nih. Mungkin hal itulah yang mendorong gue ngomong gitu ke dia tanpa dipikir terlebih dulu.

*Pukul 12.05, 11/12/2012*

[i]on WhatsApp[/i]

[b]BF_Arie: sorry bray, gw gak bs nemenin elu[/b]

Sepulang sekolah tadi gue dan Arie berencana mau belanja ke Squire. Gue mau beli kebutuhan pribadi gue dan Arie setuju buat nemenin.

[b]Mario: knp?
BF_Arie: Juwita ngajakin pergi[/b]

Juwita, dia anak paskibraka dari Smanpat, yang diceritain Arie beberapa hari yang lalu. Si cewek ini juga yang mau Arie tembak.

[b]Mario: oh, ya gpp.[/b]

Gue membalas dengan perasaan kesal, marah, hampa…

[B]BF_Arie: sepulang gw jalan2 ntar gmn?[/b]

Gue sudah terlanjur kesal dan kecewa.

[b]Mario: gk ush. Gw pergi sendiri aj.
BF_Arie: sip dah. Doain gw y moga lancar, :D[/b]

Gue langsung menghapus semua chit-chat gue dan dia dan memutuskan untuk tidak menjawab pesan terakhirnya. Dengan perasaan kecewa gue berjalan ke luar rumah dan membawa motor gue dengan kecepatan tinggi.

Sesampai di Squire, gue merogoh HP lagi sambil berjalan pelan memasuki area belanja itu. Gue membuka facebook dan menulis status:

[b]A.N.J.I.N.G[/b]

sekaligus meng-like-nya.

*Pukul 12.50*

Serentetan komentar dan like mengalir dari status baru gue. Gue membalas komentar mereka satu persatu.

Tiba-tiba gue mendengar ada yang meneriakkan nama gue. Gue pikir gue salah dengar. Ternyata teriakan itu berulang lagi.

Memang ada yang memanggil gue. Dia Mr. Pai-Jo yang berdiri di samping kereta belanjaannya yang menggunung.

***

Wajar gue marah sama dia. Mister itulah yang menyarankan Arie untuk PDKT lagi sama Juwita. Seandainya dia nggak memberi nasehat seperti itu, mungkin Arie ada di samping gue saat ini.

Gue mengacak-acak rambut dengan gemas. Apa gue harus segila ini? Perasaan ini benar-benar nggak penting. Tapi gue nggak bisa menghilangkannya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: