Sisi pelangi chapter IId

***Johan***

Capek habis main bola sama anak-anak SMA, tapi menyenangkan. Ingat dulu hampir setiap sore nangkring di sekolah cuma sekedar main bola. Tapi semenjak duduk di bangku kuliah, kegiatan itu sedikit demi sedikit tergeser dengan segudang aktivitas kuliah yang menumpuk. “Pulang, Mister?” sapa salah seorang siswa yang tak kukenal. “Iya…” kataku.
“Hati-hati ya, Mister Jo! Kapan-kapan kita main lagi!” seru Arie. “Sip! Mister duluan ya!”
“Ya, Mister!”
Aku memasukkan gigi dan mengendarai motorku keluar dari area sekolah.

Perjalanan pulang sama seperti hari biasanya. Sampai akhirnya kira-kira dua meter dari rumah, aku melihat kerumunan orang.

Akupun memelankan laju motorku.

“Ada apa, Pak?” tanyaku ke pemilik warung, tempat biasanya aku belanja. “Tabrakan.”
“Hah? Tabrakan? Siapa, Pak?”
“Nggak tahu tuh. Tapi salah satu dari mereka anak sekolah.”
“Parah, Pak?”
“Nggak. Kelihatannya cuma jatuh dan lecet-lecet aja..”

Aku menepikan motorku. Lagi pula akupun tak bisa melewati jalan saat ini.

Aku berjalan menerobos kerumunan orang, yang kebanyakan hanya sebagai penonton saja.

“Permisi… Permisi…”

Aku sampai di depan kerumunan dan melihat sang korban yang tengah duduk di trotoar dengan celana sekolah tergulung sampai ke atas lutut.

“Gimana, Pak? Baik-baik sajakan?” tanyaku ke seorang bapak-bapak di sampingku. “Cuma lecet…”

Saat sang bapak menjawab, korban yang tengah duduk sambil memegangi betisnya itu mengangkat kepala dan memandang ke arah kami.

Aku kaget.

“Mario…?!” seruku.
“Mister…” desisnya pelan.
“Jadi kamu yang tabrakan?” tanyaku sambil jongkok di hadapannya. “Ya…”
“Kok bisa?”
“Nggak tahu,” jawabnya disertai gelengan kepala.
“Cuma lecet aja?”
“Iya,” jawabnya sambil memperlihatkan lecet di lutut dan bawah sikunya. “Kamu kenal sama dia, Jo?” tanya salah seorang dari kerumunan. Aku mendongak. Bang Hardi, pemilik bengkel di seberang jalan yang bertanya. “Ya, Bang. Ini muridku di sekolah.”
“Nggak ada yang parahkan?” tanya salah seorang bapak.
Mario dan lawan tabrakannya menggeleng.
“Motor kalian gimana?” tanyaku.
“Cuma lecet,” jawab lawan tabrakan Mario.
“Motor kamu gimana, Yo?” tanyaku lagi.
“Nggak apa-apa, Mister.”
“Ya sudahlah kalau begitu. Damai sajalah sekarang terus bubar. Jangan sampai ada polisi nanti panjang pulalah urusannya,” nasehat salah seorang dari kerumunan. Yang lain mengamini.
Akupun setuju.

Setelah berdamai secara baik-baik, kerumunanpun bubar. Tinggal aku, Mario dan lawan tabrakannya di pinggir jalan.

“Masih bisakan naek motornya?” tanyaku ke Mario.
Ia mengangguk.
“Ayo, kita ke rumah Kakak dulu,” ajakku.
“Nggak usah. Gue mau langsung pulang,” tolak Mario.
“Kita obati dulu luka kamu,” kataku.
“Di rumah aja.”
“Udah, buruan yuk! Nanti bisa infeksi lho!”
desakku.
Mario menghela nafas dan berjalan menuju motornya sambil sedikit tertatih.

Sesampai di rumah, aku langsung mengambil air, kapas, obat merah dan plester dari kotak P3K. Semua barang-barang itu kuletakkan di depan kaki Mario.

“Lurusin kaki kamu,” kataku.
“Biar gue aja, Mister…”
“Udah, biar Kakak aja. Lurusin kakinya!”
Ia menuruti perintahku.

Aku mencuci lukanya sampai bersih. Saat air mengenai lukanya, ia meringis sedikit. Akupun sedikit melembutkan gerakanku. Setelah itu kuteteskan betadine ke atas kapas lalu kutempelkan di atas luka lecetnya. Terakhir kapas itu kubalut dengan plester. Selesai sudah.

Setelah mengobati luka pada lututnya, aku berpindah ke bawah sikunya. Sama seperti tindakanku yang pertama.

“Lain kali lebih hati-hati,” pesanku.
Ia hanya diam.

Aku duduk di sebelahnya dan memandanginya. Aku baru sadar ia masih mengenakan seragam sekolah.

“Lho, bukannya tadi kamu pamit pulang duluan, Yo? Kok masih pake seragam sih?” tanyaku. “Oh, gue belum pulang ke rumah.”
“Kamu kemana? Kenapa kelayapan?”
“Bosan di rumah.”
“Yaahh, kalo gitu kenapa nggak ikutan main aja tadi?”
“Bosan main juga.”

Sudut bibirku sedikit tersungging. Percakapan kami terasa sangat kaku.

“Sebentar lagi maghrib. Kamu mau makan di sini atau mau pulang?” tanyaku. Ia mengangkat kepala.
“Maaf, bukan maksud Kakak ngusir kamu. Tapi emang sebentar la—” “Gue mau pulang aja. Nggak apa-apa kok,” potongnya sambil bangkit. Aku tersenyum.
“Thanks Mister,” katanya serata memakai helm-nya.
“Yap. Hati-hati ya.”
Mario mengangguk.

***

“Papa udah pulang, Yo?” tanya Mama yang tengah menyiapkan menu makan malam.
“Belum tuh,” jawabku sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Kebetulan aku baru selesai mandi sore.
“Terus tadi kamu ngobrol sama siapa?”
“Tadi? Di teras tadi ya?”
Mama mengangguk.
“Oohh, murid, Ma. Dia kecelakaan di dekat warung…”
“Kecelakaan? Parah nggak?”
“Lecet doang,” jawabku sambil lalu ke kamar.

Selesai mandi, aku pergi ke ruang keluarga dan menonton TV. Hampir semua stasiun TV menyiarkan program komedi.

Tak berapa lama kemudian, Mama datang dan bergabung menonton denganku.

“Jo, mau makan sekarang?”tanya Mama.
“Tunggu Papa ajalah…”
“Siapa tahu Papa pulangnya masih lama.”
“Nggak apa-apalah, Ma. Lagian Jo juga belum lapar…” kataku.
“Oh, ya sudah…” kata Mama sambil fokus ke layar TV. “Eh, ganti ke TransTV dong…”
“Emang ada apa, Ma?” tanyaku sambil memindahkan channel sesuai permintaan beliau.
Sebelum Mama menjawab, aku sudah tahu sendiri jawabannya.
“Yaahhh… gosip lagi…” gumamku.
“Ini berita panas, Jo. Soal bupati Garut itu lho…”
“Aceng.”
“He-eh. Masa kawin cuma 4 hari, huhhh…” gerutu Mama.
Aku tersenyum.

“Ternyata, sebelum menikahi Fani, Aceng Fikri diberitakan sudah menikah siri sebanyak enam sampai tujuh kali. Benarkah demikian? Temukan jawabannya sesaat lagi…”

“Ya Ampun! Ini beneran???!!! Penjahat Kelamin itu orang!” jerit Mama mendengar apa yang dikatakan presenter yang aku tak tahu namanya.
“Alaa, itu gosipnya aja yang nambah-nambahin, Ma,” kataku sambil mengganti ke saluran lain.
“Eee, biarin Insert tadi, Jo. Mama mau tahu jawabannya,” kata Mama.
“Iyaa. Ini kan lagi iklan…”
“Jangan lupa, ya. Iklannya nggak lama kok…”
“Iyaaa…”

Saat asyik nonton TV sama Mama (sebenarnya cuma beliau sendiri sih yang asyik), tiba-tiba terdengar salam dari luar.

“Eh, bukain pintu, Jo. Itu pasti Papa kamu.”
“Yeee, Mama lah yang bukain. Mama kan istrinya…” balasku.
“Iiih, ini belum iklan. Lebih afdol kalo sang anak yang nyambut orang tuanya. Anak soleh.”
“Pinter banget ngelesnya,” gerutuku sambil beranjak ke luar.
“Pa,” sapaku saat menyambut dan mencium tangan Papa.
“Mana Mama, Jo?” tanya Papa.
“Biasalah Pa. Nonton gosip!”
“Hmmm… Mamamu itu, lebih milih gosip dari pada suami sendiri…” kata Papa sambil geleng-geleng kepala.
“Benar banget tuh, Pa,” kataku sambil nyengir.
“Kalo kamu kawin nanti, rumah kamu nggak usah difasilitasi sama TV. Biar istrimu nggak bisa nonton gosip,” kata Papa sambil tersenyum dengan mimik lucu.
Aku terbahak.
“Gimana kalo dia nonton di rumah tetangga, Pa? Pan bisa berabe? Hehehe…” balasku.
“Hahaha. Pastiin semua tetangga kamu nggak punya TV semua.”
“Jiaahhh… Ribet amat dah!”
“Hahaha…! Ya udah, Papa mau mandi dulu..”
“Sip!”
Papapun berlalu ke kamar, sementara aku kembali menemui Mama yang begitu khusyuknya menonton TV.

Setelah Papa selesai mandi, lalu sholat berjamaah, kami bertiga beranjak ke ruang makan untuk santap malam. Di sela-sela makan itu, kami bertiga bertukar cerita.

“Papa sama Mama sudah positif bakal tinggal sama Kak Reno, Jo,” kata Papa sambil menyodorkan piring ke Mama.
Mama dengan sigap menyendokkan nasi ke piring Papa.
“Oh, ya? Segala urusannya udah kelar semua, Pa?” tanyaku.
“Emangnya urusan apa? Cuma masalah kerjaan… Data-data bisa dikirim aja via e-mail,” jawab Papa.
“Terus kamu gimana, Jo?” tanya Mama.
“Jo tetap gini ajalah, hehehe…” jawabku.
“Maksud Mama, kamu yakin tetap tinggal di sini?”
Aku mengangguk mantap.
“Pindah ajalah Jo. Di sini kamu sendirian. Ntar kamu repot lho,” kata Papa.
Aku geleng kepala, lalu mendorong piring sedikit ke depan dan mengambil segelas air putih.
“Nambah?” tanya Mama.
Aku geleng kepala.
“Tuh, Mama khawatir deh kalo kamu sendirian, kamu jadi lupa makan. Sekarang aja makan kamu itu dikit banget. Gimana kalo sendirian? Pasti makannya makin dikit… Nggak ada yang nemenin makan, nggak ada yang masakin, jadi semuanya serba malas…” kata Mama.
“Nggak lah, Ma. Percaya deh sama Jo. Jo pasti bisa jaga diri lah. Baik sikap maupun kesehatan,” kataku mencoba meyakinkan.
“Porsi makan kamu itu ditambahlah, Nak,” kata Papa. “Kamu itukan aktivitasnya banyak. Kuliah, mengajar, apalagi?”
“Cuma itu doang, kok. Selebihnya cuma olahraga, main…”
“Semua itu butuh energi,” sambung Mama. “Makanan itu harus dijaga, ingat?”
Aku mengangguk.
“Jadi kamu tetap pengen disini?” tanya Papa sekali lagi.
“Yup.”
Mama menghela nafas.
“Kenapa sih kita ini jarang banget bisa kumpul utuh? Ada kamu, si Reno yang nggak ada. Nanti selalu ada Reno, malah kamu yang absen. Mama itu pengen banget lho, setiap hari lihat kamu sama Kak Reno-mu itu sering-sering dalam satu ruangan, satu waktu di depan Mama gitu. Biar pikiran Mama ini nggak kepecah-pecah…”
“Mamaaa… Jangan terlalu dipikirinlah,” saranku. “Baik aku maupun Kak Reno itu udah gede. Udah bisa jaga diri sendiri. Kalo ada apa-apa, kami bisa handle. Mama santai aja. Lagian sekarangkan jaman modern, Mama bisa telepon dan SMS ke kita. Atau kalo mo lebih canggih lagi, bisa skype noh… Atau mau yang gratisan? Pake WA… Gampaaangg!”
“Tapi tetap aja rasanya beda. Ada penghalang, gak bisa menyentuh dan melihat secara langsung…”
“Mama kan bisa kapan aja nyamperin, Jo? Lagi pula Jo kan cowok, Ma. Jo pengen hidup mandiri,” kataku sambil tersenyum.
Mama menghela nafas.
Aku dan Papa saling pandang dan tersenyum.
Mama berubah mangut-mangut. Naluri seorang Ibu memang begitu luar biasa, selalu tak ingin jauh dari sang buah hati. I love you, Mom…

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: