Sisi pelangi Chapter IIc

Gue menghembuskan nafas lega. Akhirnyaaaa… Les Bahasa Inggris menyebalkan ini selesai juga.

“Bray, jangan pulang dulu. Kita maen dulu,” kata Arie sambil menyandang tasnya. “Maen apaan?”
“Elu maunya apa?” Arie balik bertanya dengan senyum nakal.
“Apa aja deh, asal sama elu…”
“Wkakaka. Nyok kita ke toilet!” Arie menarik lengan gue cepat. “Eee, kok ke toilet? Mau ngapain?” gue langsung shock.
“Temenin gue pipis, kebelet nih…”
Gue langsung memukul bahu Arie cukup keras.
“Pergi aja sendiri!” tolak gue sambil melepaskan lengannya.
Arie melengkungkan bibirnya ke bawah, menjadi garis murung.
“Ayolah!” Gue selalu nggak bisa menolak permintaan Arie.
Arie tersenyum lebar.

Setelah dari toilet, kita kembali ke lapangan.
“Katanya tadi elu ngajakin maen. Maen apaan sih, Bray?” tanya gue. “Apalagi? Bola dong…”
Gue menoleh ke arah lapangan Football. Beberapa siswa sudah siap-siap memulai pertandingan di sana. “Ayok ke sana!” Gue menarik lengan Arie.
“Eh, bentar, Bray!” Arie tiba-tiba berlari menuju parkiran.
Gue mengamatinya dari samping tiang bendera. Mau ngapain dia? Tak lama kemudian, ia datang lagi dengan… Pai-Jo!
Gue mengatupkan mulut rapat. Kenapa Arie ngajakin tuh orang?

“Bray, Mister Jo bakal gabung sama kita…!” seru Arie riang. Pai-Jo tersenyum.
“Kita lihat apakah Mister Jo main bolanya sejago bahasa Inggrisnya? Hihihi…”
“Hahaha,” Pai-Jo terbahak. “Mister udah bilang sama kamu, Rie, Mister nggak jago maen bolanya,” kata Pai-Jo. “Mister merendah aja…”
“Ayolah!” potong gue berjalan mendahului mereka. Muak juga lama-lama mendengar banyolan garing mereka. “Ayo Mister kita kemon!” seru Arie sambil tergelak.

Pai-Jo menggulung lengan kemejanya sampai ke mata siku. Bulu-bulu tangannya yang halus sangat kentara di kulit putihnya. Ia juga pemanasan dengan berlari-lari kecil di tempat. Lagaknya kayak mau tanding beneran aja.

“Bray, ayo! Ngapain elu cuma menung di situ?!” teriak Arie mengejutkan gue. Gue tersenyum dengan malas.
“Ayo main!” Arie melambaikan tangan ke arah gue.
“Nggak ah, Bray!” tolak gue.
“Lho kenapa???” Arie nampak terkejut sambil mendekati gue.
“Gue capek.”
“Yaahh…”
“Lagian yang ngegantiin gue udah ada tuh,” kata gue sambil mengarahkan dagu ke Pai-Jo. “Baiklah,” kata Arie sambil tersenyum.
“Ya udah buruan main gih. Gue mau pulang.”
“Kok pulang? Tonton gue main dong…”
“Gue mau istirahat aja di rumah. Gue kan udah bilang gue capek.” “Ya udah deh. Hati-hati ya, Bray!”
Gue mengangguk dan bangkit dari duduk.

“Mau kemana Yo?” tegur Pai-Jo.
“Pulang,” jawab gue singkat.
“Lha, pertandingan belum dimulai, kok udah pulang?”
“Lain kali aja. Capek, Mister.”
“Ohh, ya udah, hati-hati aja pulangnya.”
Gue mengangguk.

Gue bersandar dengan pikiran tak menentu di parkiran. Sebenarnya gue pengen banget main sama Arie dan teman-teman yang lain. Tapi tanpa Pai-Jo.

Akh, gue kemana ya? Terlalu cepat buat pulang ke rumah. Membayangkan suasana rumah yang sepi membuat suasana hati gue makin kacau.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: