sisi pelangi chapter II

Chapter II

***Johan***

“Masuk,” kataku sambil mengangkat wajah dan menatap ke arah pintu.

Pintu dibuka. Mario masuk.

“Ada apa?” ia langsung bertanya tanpa mengucap salam terlebih dulu. “Silahkan duduk,” kataku sambil melambaikan tangan ke arah kursi di sampingnya. Mario tak bergerak.

Aku menghela nafas dan menatapnya lekat.

“Do you have a problem with me?” tanyaku to the point.
Ia menggeleng.
“So?”
“Mister yang panggil saya kemari. Gue seharusnya yang nanya dong,” jawabnya.
“Well, baiklah. Saya cuma pengen penjelasan dari kamu, kenapa sudah tiga kali pertemuan kamu mangkir dari les yang saya berikan? Apakah kamu punya masalah sama saya?” “Nggak!” jawabnya cepat.
“Lantas apa masalah kamu selama ini? Apa penjelasan kamu atas semua ketidakhadiran kamu di kelas?” Ia terdiam dan tak langsung menjawab. Aku menunggu jawabannya.
“Jujur, saya sedikit tersinggung dengan sikap kamu ini. Saya rasa kita nggak punya masalah apa-apa kan? Tapi kenapa sikap kamu seperti ini? Kamu seakan menghindar dari saya…” terangku. Mario masih tak bersuara.
“Oke, baiklah kalo kamu nggak mau jawab. Tapi tolong jangan sampai masalahmu itu berdampak buruk sama kehidupan kamu yang lain.”
“Tenang aja. Lagian masalah gue ini nggak ada hubungannya sama Mister,” jawabnya kemudian.
“I hope so. Karena saya nggak mau kehadiran saya di kelas kalian, membuat kalian merasa nggak nyaman. Tujuan saya di sini hanya ingin membantu kalian agar lebih siap menghadapi pelaksanaan UN nanti…” Mario mencoba tersenyum. Senyum keterpaksaan.
“Once again, you currently don’t have any problem, Right?”
Mario mengangguk.
“Kalau begitu, saya harap minggu berikutnya kamu hadir di kelas saya saat les tambahan okey?” Ia mengangguk dengan enggan.
Aku tersenyum.
“Kamu boleh keluar. Thanks sudah bersedia memenuhi panggilanku.” “Iya. Permisi.” Mario membungkuk sedikit lalu berbalik.

“Ehm. Yo! Wait!”

Mario menoleh dengan kening sedikit berkerut.

“Mungkin ini sudah basi, tapi saya dan teman-teman ngucapin makasih karena sudah kamu traktir beberapa hari yang lalu,” kataku.
“Oh, iya. Bukan masalah. Gue juga udah lupa soal itu,” jawabnya dingin lalu menghilang dari balik pintu.

Aku menghela nafas dan tersenyum kecil.
“Be patient, Jo,” desisku menenangkan diri.

***

***Mario***

Fffhhh.

Gue manatap pintu yang baru saja tertutup.

Grr, apa peduli dia sama gue? Udah berasa jadi guru BP aja dia.

“Eh, gimana? Kenapa Mister Jo manggil elu?” tanya Arie yang datang entah dari mana. “Bukan apa-apa,” jawab gue enggan sambil melangkah meninggalkannya.
“Haish, kenapa? Nggak mungkinkan cuma ngobrol kosong doang?” desak Arie seraya mensejajari langkah gue. Gue memutar mata.
“Apa?”
“Dia cuma nanya kenapa gue nggak ikut les.”
“Haaa..! Elu juga sih, udah tiga kali berturut-turut nggak menghadiri les! Emangnya ada apa sih??” “Males.”
“E, busyet! UN tinggal menghitung hari, elu malah kena sydrome malas. Dasar!” Arie mendorong kepala gue.
“Apaan sih elu?!” gerutu gue kesal. Untuk pertama kalinya gue males meladeni Arie. “Sensitif amat, Bray? Lagi dapet ya?”
Gue hanya diam.
Arie mengerutkan keningnya. Mimik mukanya berubah serius.
“Elu kenapa, Bray? Ada masalah ya?”
“Nggak ada.”
“Serius? Cerita dong ke gue.”
“Serius. Elu tenang aja. Minggu depan gue bakal mengikuti les bahasa Inggris lagi kok.”
“Nah, gitu dong! Gue ada teman ngobrol lagi di kelas,” kata Arie sambil tersenyum. “Elu mau belajar apa mau ngobrol?”
“Hehehe. Sekalianlah. Habis nggak enak banget tau duduk sendirian.” Gue tersenyum kecil.
“Lagian kasihan sama Mister Jo, beliau dengan tulus ngajarin kita, tapi kitanya nggak kasih respon yang baik.”

Gue menghela napas. Baru aja hati gue adem, udah dipanasin lagi tentang Pai-Jo.

“Emang tugas dialah ngajarin kita. Dia ngajarin kita itu nggak gratis!”
“Elu kok ngomong gitu sih? Mister Jo itu hebat lho. Masih muda, bahkan belum lulus kuliah aja, tapi cara dia mengajar kita itu udah asyik banget!”

Hhh, puji aja terus. Ini nih yang bikin gue nggak mood mengikuti les bahasa Inggris. Hati gue capek tiap dengar elu selalu memuji Pai-Jo itu, Bray…

“Iya, deh. Dia hebat! Dia cakep! Dia pintar! Cara ngajarnya asyik!” cerocos gue dengan amarah tertahan. “Gue mau kayak dia,” timpal Arie.
“Oh, baguslah,” kata gue singkat.
Arie tersenyum ringan.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: