Bianglala Satu Warna Chapter Ih

Tiba-tiba di tengah percakapan, seseorang memasuki restoran dan menarik minatku. Secara refleks kutolehkan muka ke arah pintu masuk.

Itu Mario? Murid yang tadi sore nggak ikut les-kan?

Anak itu memesan makanan lalu duduk di meja sebelah tempat kami berkumpul.

“Yo, Mario…!” panggilku.

Anak itu menoleh.

Yup, aku nggak salah orang.

“Hey, Boy! Teman-temanmu bilang kamu tadi siang nggak enak badan ya?”

Mario nampak terkejut. “Eng, i-iya…”

“Oh, terus gimana sekarang? Do you feel better now?”

“Yes, Mister. I’m feeling better.”

“Good. Harus jaga fisik ya, Dik. Jangan sampai jatuh sakit lagi. Get well soon,” pesanku sambil tersenyum.

“Thankyou Mister.”

“Nggak usah pake Mister lah kalo di luar. Panggil Kakak aja.”

“Ya, Kak.”

“Sip! Kamu beli pangsit buat kamu ya?”

“Iya, Gue.”

“Hm, seharusnya jangan makan mie dulu Dek. Apalagi yang pedes. Makan yang kaya asupan gizilah biar cepat sembuh,” kataku lagi. Mario tak menjawab.

“Mas, ini pesanannya sudah selesai,” seorang pelayan memberikan pangsit pesanan Mario.
“Oh, iya,” Mario langsung bangkit.

“Nggak makan di sini?” tanyaku.

“Nggak.”

“Berapa, Mbak?” tanya Mario sambil mengeluarkan dompet.

“Biar Kakak aja yang bayar,” timpalku.

Mario dan sang pelayan serentak menoleh ke arahku.

Aku mengangguk.

“Oh, nggak usah, gue bayar sendiri. Gue punya duit kok,” tolak Mario dengan, ehm, kasar. Aku menelan ludah dan berusaha tersenyum.

“Ya udah kalo gitu,” kataku lalu fokus ke teman-teman yang sedari tadi memperhatikan percakapan kita.

“Gue duluan!” seru Mario setelah membayar makanannya. Tanpa menunggu jawabanku dulu ia langsung saja pergi meninggalkan restoran. Aku tersenyum.

Sepeninggalan Mario, teman-temanku memberondong dengan pertanyaan.

“Dia siapa, Jo?” tanya Fitra.

“Salah satu muridku.”

“Murid elu? Yakin elu? Kasar begitu…” desis Ajeng.

“Ya. Nggak sopan banget! Masa sama gurunya begitu?” sambung Farah.

Aku terkekeh. “Aku cuma satu jam mengajar mereka. Aku belum bisa dikatakan bagian guru di sana,” terangku.

“Tetap ajalah Bro! Lu nggak lihat gimana gayanya yang sengak itu?” ujar Pradistia.

“Ya. Sumpah gondok banget ngeliat dia! Anak-anak zaman sekarang ya, makin tipis etikanya,” gerutu Farah.

“Tapi dia cakep banget lho,” ujar Ajeng.

“Huhhh… Dasar cewek ganjen! Nggak bisa lihat barang bagus dikit!” sembur Fitra.

“Tapi beneran kok, itu brondong tadi cakep badai. Tampang indo,” Farah membenarkan Ajeng.

“Betulkan?” Ajeng berpandangan dengan Farah.

“Elu pada pikir cukup hidup cuma dengan tampang kece badai, eh? Percuma cakep kalo nggak bisa beretika dengan baik!” kata Fitra.

“Yup. Ibaratnya nih, percuma casing aja yang kinclong, tapi udah turun mesin, hihihi…” sambung Pradistia. Aku terkekeh mendengar perdebatan mereka.

“Punya pasangan yang rupawan emang nggak menjamin hidup bahagia…” kata Farah.

“Betul itu!” sambut Fitra dan Pradistia berbarengan.

“Apalagi yang jelek!” sambung Farah cepat.

Aku dan Ajeng terkekeh. Sementara Fitra dan Pradistia mangut-mangut.

Obrolan kami pun terus berlanjut. Meloncat dari satu topik ke topik lain. Tak terasa malam semakin merambat naik. Menjelang pukul setengah sebelas, kami memutuskan untuk pulang.

Saat ingin membayar makanan yang sudah kami pesan, secara mengejutkan pihak restoran mengatakan makanan kami sudah dibayar.

“Serius ini, Mbak? Siapa yang bayar?” tanya Ajeng.

“Adik yang ngobrol sama Mas tadi,” jawab sang pelayan sambil menunjukku.

“Mario?”

“Iya, Adik yang tadi.”

Aku mengerutkan kening. Sementara teman-teman memandangiku.

“Ya sudah kalo begitu. Berarti kita makan gratis malam ini,” pungkasku.

“Yoi! Ternyata baik juga murid elu itu, Jo!” kata Ajeng.

“Sampaikan salam kita ke dia, ya?” sambung Farah.

“Salam sayang dari kak Ajeng yang cantik,” tambah Ajeng.

“Weeekkk… Kresek mana kresek?” timpal Fitra.

Kami semua tergelak sambil berjalan menuju parkiran.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: