Bianglala Satu Warna Chapter Ig

***Johan***

Kusapu seisi kelas lewat pandanganku. Seperti biasanya, beberapa siswi dan tentu saja Kenanga, memandang ke arahku sambil senyam-senyum.

Aku tersenyum geli dalam hati. Dasar gadis-gadis genit.

Aku senang. Wajah mereka semua begitu antusias setiap tatap muka denganku. Aku berharap semua materi les yang kuajarkan ke mereka tidak sia-sia.

Aku mengalihkan pandangan ke barisan bangku baling kanan. Satu bangku kosong.

Lagi. Untuk kedua kalinya anak itu—Mario—, mangkir dari les ini. Kemana dia?

“Rie, teman sebelah kamu mana?” tanyaku ke Arie.

“Tadi dia pulang, Mister.”

“Kenapa?”

“Nggak enak badan.”

“Ooo… Kalian semua harus jaga kesehatan. Jangan sampai jatuh sakit di saat-saat penting, terutama waktu ujian. Pokoknya harus benar-benar bisa jaga badan,” pesanku sambil mengarahkan pandangan ke mereka semua.

“Ya Mister.”

Aku memandang jam dinding. Waktunya untuk pulang.

“Okey, everybody, time is over. Minggu depan kita lanjutkan lagi materinya ya? Don’t forget to do the task on page 25. Next week we’ll discuss it. Thanks very much for your attention, see you next time!”

“Yes, Mister!”

Aku tersenyum dan bangun dari kursi lalu melangkah meninggalkan kelas.

***

Ponselku tiba-tiba berbunyi saat masih di atas motor dalam perjalanan pulang.

Dari Fitra.

“Ya, Fit?” sapaku sambil menyisipkan ponselku di antara telinga dan helm.

“Jadi gak nih rencana ngumpulnya?”

“Pasti dong.”

“Sip. Gue langsung berangkat ya…”

“Eeh, eehh, wait! Bisa nggak nih diundur habis maghrib aja?”

“Lha, kenapa???”

“Aku baru pulang nih dari nge-les. Capeeek. Aku mau pulang dulu, mandi, istirahat sebentar….baru deh kita kumpul. Setuju?”

“Yeee… Gue udah siap-siap… Gimana sih lu ah?”

“I’m so busy, friend, hehehe…”

“Hmmm… Yang kebanjiran job…”

“Cuma ngajarin les doang…”

“SMA ya?”

“Yup.”

“Ada yang bening nggak? Kenalin gue dong ke anak didik lu, hihihi…”

“Banyak! Ready stock! Hahaha… Kamu mau yang kayak apa?”

“Cantik, imut, manis, seksi… Pokoknya yang sepadan ama gue lah!”

“Ngaca dulu dong! Emang kamu cakep, imut, manis, seksi, eh?”

“Bhahaha. Sialan elu!”

“Ya udah, ntar di rumah aja ngobrol lagi. Atau pas ngumpul. Ini lagi di jalan, takut kenapa-kenapa,” pungkasku.

“Oh, iya, iya… Hati-hati, Bro! Sampai nanti yo!”

“Sip!”

Huh. Kupingku panas. Buru-buru kutarik kembali ponsel dari telinga dan fokus kembali ke jalanan.

***

Suasana Pangsit 21, the most popular restaurant in my hometown, cukup tenang malam ini. Senang rasanya. Bisa menghabiskan waktu ngobrol bersama teman-teman lama dari SMA tanpa diintervensi kebisingan meja sebelah.

“Keknya ini memang harinya kita deh,” komentar Pradista sambil memperhatikan sekeliling.

“Ya nih. Tumben ya 21 agak lengang malam ini? Biasanya bejibun dan rebutan tempat duduk?”

“Baguslah. Itu artinya kita bisa menguasai tempat ini,” timpalku.

“Yoiiii…! Udah lama banget kita gak kumpul-kumpul, khususnya di sini. Ini serasa…nostalgia, hehehe,” kata Ajeng.

“Hahaha…! Benar-benar. Banyak kejadian lucu yang kita alami di sini,” Farah tergelak.

“Hihihi…!” Ajeng ikut-ikutan tergelak dan berpandangan dengan Farah.

“Emang ada apa sih?” Pradistia penasaran.

“Ada seseorang di antara kita yang waktu itu ulang tahun, gaya-gayaan traktir kita di sini. Eh, pas mo bayar, nggak bawa uang. Alhasil kita-kita deh yang bayarin dia…” cerita Farah.

“Itu Gue! Lu nggak usah bilang seseorang ya, Far!” kata Ajeng.

“Ooh, lu ya, Jeng?”

“Jangan pura-pura gitu elu!”

“Hihihi…”

“Tapi ada juga lho yang punya romansa di sini dulu,” giliran Pradistia yang mengurai kenangan.

“Romansa?”

“Iyaaa…” jawab Pradistia sambil melirik Fitra.

“Ada apa?” tanya Fitra berlagak polos.

“Ooo… Pantesan tadi dia ngebet banget ngajakin kita ngumpul di sini,” beberku.

“Oh ya?”

Aku mengangguk.

“Masih ngarep ya Fit, sama waitres itu?” goda Pradistia.

“Monyong! Diem lu!” jerit Fitra sambil membekap mulut Pradistia.

“Dia udah nggak kerja di sini lagi,” aku yang jawab.

“Oeungzz…” Pradistia mendesis tak jelas karena mulut terbekap.

“Yang mana sih?” Farah kepo.

“Mungkin kalian semua pernah—”

“Ah, ember elu semua!” potong Fitra beralih membekap mulutku.

“Waitres berkaca mata, rambut sebahu dan katanya paling manis,” Pradistia menyambung ucapanku.

Farah dan Ajeng terlihat berpikir.

“Masa sih lu pada lupa? Dia itu waitres favorit di sini semasa kita masih SMA,” terang Pradistia lagi.

“Oh..iya, iya… Gue inget. Yang hitam manis itukan?” Ajeng meminta pembenaran.

“Yup!”

“Yang mana sih???” Farah makin kepo.

“Aduuhh, yang itu lho, Far, yang rambut sebahu, pake kaca mata, hitam manis…”

“Ih!” Farah mendorong bahu Ajeng putus asa. “Clue yang lain dong! Terus aja lu ulang ciri-cirinya rambut sebahu, pake kaca mata…”

“Yaahh, gue nggak tahu apalagi ciri khasnya dia. Seragam mereka sama. Cuma kaca mata, rambut sebahu dan hitam manis itu doang yang gampang dikenali…”

“Hadeehh… Udahlah! Nggak penting juga,” potong Fitra. “Cuma masa lalu. Gue tertarik sama dia karena dia emang manis. Nggak salah dong???”

“Iya. Tapi masalahnya sampai sekarang elu masih ngarepin dia kan?” kejar Pradistia.

“Mulai deh…”

Kami tergelak.

“Ngomong-ngomong elu ngajar ya, Jo?” tanya Farah tiba-tiba.

“Iya,” jawabku disertai anggukan.

“Ckckc… Hebat elu! Masih muda udah jadi guru aja.”

“Cuma sementara kok. Ngajar les doang. Menggantikan Miss Nining yang lagi cuti melahirkan,” terangku.

“Gimana rasanya jadi guru, Jo? Enak nggak?” tanya Ajeng.

“Atau sering dikerjain juga sama anak-anak seperti yang dulu kita lakuin ke para guru?” tanya Pradistia.

“Enjoy. Mereka semua antusias menerima pelajaran dariku.”

“Terang ajalah gurunya cakep kayak elu, Jo! Coba kalo gurunya kayak Fitra, pasti seisi kelas ngacir semua,” celetuk Pradistia.

Tawa kami membahana.

“Asem!” semprot Fitra. “Gue lagi yang kena.”

“Hihihi… Peace, Bro! Kidding…”

Fitra merengut.

“Oh iya, banyak yang geulis nggak, Jo?” tanya Pradistia lagi.

“Hmm…!” Farah dan Ajeng serentak berdehem.

Pradistia nyengir.

“Kenapa? Kamu dan Fitra masih nggak laku juga?” tanyaku dengan nada canda.

“Buat simpenan,” kelit Pradistia.

“Halah, alesan! Kalo nggak laku bilang aja! Elu sama Fitra mah sebelas dua belas. Sama-sama jelek, sama-sama nggak laku! Bhahaha…!” celetuk Farah.

“Wedewww, jleb banget, Far,” kata Fitra.

“Menghujam jantung, wkakaka…” sambung Ajeng.

Aku nyengir.

“Aku udah bilang ke Fitra tadi sore, yang bening banyak banget.”

“Widiihh, cakeeepp!” kata Pradistia.

“Boleh dong kenalin ke kita,” sambung Fitra.

“Aku sih mau-mau aja, but…”

“Kenapa?”

“Akunya takut mereka yang nggak mau kenalan sama kalian,” sambungku lalu nyengir.

“Anjrit! Elu, Farah sama Ajeng itu emang yah, dari dulu selalu aja menganiaya gue..”

“Nggak apa-apalah, Fit. Doa orang yang teraniaya itu dikabulkan sama Tuhan,” kata Pradistia.

“Macacih? Gue udah sejak bertahun-tahun lalu dianiaya, terus berdoa, tapi kok nggak dikabul-kabulkan juga?”

Kami tergelak.

“Itu sih DL! Derita Lu!” kata Farah.

“Hahaha. Tapi tenang ajalah, Bro. Kita masih muda. Soal pendamping hidup itu sudah ada yang ngatur. Tuhan selalu dengar doa kita,” kata Ajeng.

“Beuhh… Sadaaapp! Gue suka gaya lu, Jeng!” kata Fitra.

Kami geleng-geleng kepala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: