Bianglala Satu Warna Chapter Ie

“Bray, kita pulang yuk?” ajak gue sambil menarik lengan Arie.

“Lho, jam kedua kita les bahasa inggris lho, Bray…” kata Arie dengan kening mengkerut.

Ya. Gue tahu. Justru itu gue ngajakin elu pulang.

“Bolos aja yuk?” ajak gue.

“Ogah! Ngapain bolos?”

“Ckckck… Saudara gue yang satu ini udah kembali ke jalan yang benar ya?” ejek gue.

“Bukan begitu. Gue suka belajar sama Mr. Jo. Kita bolos aja gimana?”

Gue menghela nafas. Gue pengennya sekarang, Rie. Kalau besok sudah nggak ada lagi Mister favorit elu itu.

“Ya udah kalo elu nggak mau. Gue pulang sendiri,” pungkas gue dengan menelan rasa kecewa. Gue kecewa sama Bray gue.

“Gila elu, Ya. Ya udah, hati-hati. Ntar gue izinin elu,” kata Arie seraya menepuk pundak gue.

“Up to you lah,” jawab gue pelan, nyaris tak terdengar.

Shit. Kenapa jadi begini sih? Untuk pertama kalinya jalan pikiran gue dan Arie tak sejalan. Biasanya Arie selalu menyetujui usul gue, begitupun sebaliknya.

Mister sialan itu sudah mengacaukan semuanya. Ia membuat Bray gue berubah.

Gue benci sama Mister Pai-Jo. Mister sialan. Kenapa Mam Nining harus brojol sekarang sih? Nggak bisa ditunda sampai les ini selesai? Gue menggerutu kesal.

***

Rumah kosong. Yah, seperti hari biasa. Tak ada keceriaan di rumah ini. Penghuni rumah besar ini cuma empat orang. Gue, Mama, Bik Rom dan Tukang kebun. Mama selalu pergi kerja dari pagi, sebelum pukul delapan. Sementara Bik Rom dan Tukang kebun sibuk dengan tugas mereka.

“Sudah pulang Den?” sapa Bik Rom yang muncul dari dapur.

Gue mengangguk sambil berjalan ke kamar.

“Sudah makan, Den? Bibik siapin yah?”

“Nggak usah, Bik. Gue nggak laper,” cegah gue.

“Ohh. Baiklah. Bibik ke dalam lagi ya…”

Gue tak menjawab, melainkan langsung membuka pintu kamar.

Inilah ruangan yang cukup memberi kenyamanan di rumah ini. Menatap seluruh barang-barang gue sendiri, memberi kehangatan di hati gue.

Akh, tidak benar-benar hangat seperti biasanya. Pikiran gue lagi kusut memikirkan Arie. Sikapnya itu merenggut semangat gue. Kedengaran aneh? Guepun merasa demikian.

Pulang tanpa Arie membuat gue merasakan ada sesuatu yang hilang di hati ini. Apa? Gue nggak tahu.

Kok bisa seperti ini sih? Gue nggak menyukainya.

Selama ini gue dan Arie memang sangat dekat. Ya, sangat dekat. Gue dan dia hampir tak pernah terpisahkan. Di mana ada Arie, pasti di sana ada gue. Makan, ke kantin, main basket, olahraga, ke WC, bolos—ya ampun, gue baru menyadari kalau gue dan Arie begitu dekat ya? Hanya tidur dan buang air saja mungkin kami tidak sama-sama.

Gue tersenyum geli. Dua berandalan sekolah yang keren. Itu sih julukan yang para cewek sematkan ke kita. Tapi memang benar sih. Gue dan Arie serta beberapa teman kita yang lain, ada Gugum, Sean dan Farid kerap bertingkah aneh dan melanggar aturan sekolah. Hanya pelanggaran standar, seperti bolos, mengenakan seragam di luar ketentuan, ribut di perpustakaan, mangkir dari upacara dan sesekali menindas junior. Masih di batas kewajarankan? Hehe…

Gue menghempaskan tubuh ke ranjang. Dan sekarang gue merasakan kehilangan teman berandalan gue yang keren itu. Huh… Tidak pernah seperti ini sebelumnya. Gue masih bisa menemuinya besok—bahkan saat ini— dan seterusnya. Jadi kenapa harus kehilangan?

Gue memejamkan mata, berusaha menenangkan pikiran. Pikiran seperti ini seharusnya tak perlu menggelanjut di benak gue. Tapi kenapa tak mau enyah ya?

Well, mungkin karena selama ini gue menganggap Arie bukan sekedar teman. Yaa… Lebih dari itu. Pacar? Uhm… Gue benci kata itu. Gue pacaran sama Arie yang cowok? Akh, itu mengganggu pikiran gue.

Teman dekat.

Tidak. Lebih dari itu.

Teman… Terdekat?

Uhm, iya. Itu lebih menyenangkan kedengarannya. Arie itu teman terdekat gue. Gue rasa semua orang bisa memahami perasaan seorang teman yang kehilangan perhatian dari teman terdekatnya itu seperti apa kan?

Argghh… Di kedalaman sana, hati gue menjerit. Gue kacau. Benar-benar kacau.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: