Bianglala Satu Warna Chapter Id

Gue mendesah pelan serta dengan malas mendengar celotehan para siswi di kelas gue. Sejak pagi tadi tak terhitung sudah berapa kali nama Mr. Jo, Mr. Handsome, Mr. Tampan, dan segudang nickname lainnya meluncur dari bibir-bibir ber-lipgloss mereka. Mereka sepertinya sangat antusias mengikuti les bahasa Inggris semenjak guru pengganti itu mengajar kita. Tapi gue yakin gerombolan gadis genit itu hanya ingin menatap wajahnya, tidak dengan paparan materi pelajarannya.

“Hey, elu lagi mikirin apa, Bray?” tegur Arie sambil menepuk bahu gue. Ia mencondongkan wajahnya ke arah gue dengan tatapan penuh keingintahuan.

“Gue boring. Pengen cepat pulang,” jawab gue.

“Jam segini elu udah boring aja. Bentar lagi kita les sama Mister Jo,” kata Arie.

“Terus apa? Gue harus bilang WAW gitu?”

“Hahaha… Hmmm… Seandainya semua guru kita itu kayak Mister Jo… Pasti suasana belajar menyenangkan. Otak gue yang kecil ini bisa menyerap semua materi yang ia sampaikan,” terang Arie seraya menunjuk kepalanya. Rambut belah pinggirnya sedikit acak-acakan.
“Elu sama genitnya dengan Kenanga sama kronco-kronconya,” kata gue sinis.

“Eit, enak aja! Jangan samain lah. Gue benar-benar semangat buat menyerap ilmu dari dia, bukannya pengen liat tampang dia. Emang gue cowok apan ciiinnn… Hahaha…!!!” Arie melambaikan tangannya sekemayu mungkin. Sayangnya tak berhasil dan sangat kaku.

“Elu termasuk dalam daftar pengagum dia yaaa…???” goda gue.

“Iih, rempong deh…” jawab Arie sengondek mungkin seraya menggamit pinggang gue.

“Iihhh… Dasar cowok-cowok sakit!” celetuk Wanda, penghuni bangku di depan bangku gue, saat berjalan melintasi kami.

“Jangan gitu dong neekkk… Kita kan samaa…” sahut Arie.

“Sakit!” balas Wanda diiringi tawa.

***

Gue menatap Arie lekat. Ia nampak serius mendengar ceramah Mr. Jo.

Sial. Sejak kapan ia bisa sefokus ini? Gue memutar mata. Kesal melihat ada seseorang yang mampu membuatnya bisa setenang ini.

“Jangan sampai nilai Bahasa Inggris elu di bawah delapan puluh,” bisik gue ke Arie.

Arie menoleh sambil mengerutkan kening mulusnya. Mimik mukanya membuat gue gemas luar biasa. Akh, seandainya…

“Maksud elu apaan?” tanya Arie.

“Gue perhatiin, elu cermat banget menyimak pemaparan Mr. Par-Jo,” terang gue berusaha menekan rasa cemburu.

Gue cemburu? Gila. Perasaan apa ini?

“Hehehe… Udah ah, gue mau belajar. Elu juga. Mau sampai kapan elu pikirannya kelayapan di luar, eh?” tanya Arie sambil mencubit pinggang gue. Gue mendesis. Gue membalas cubitannya.

“Ih, elu ganggu aja deh, Bray,” ucapnya pelan sambil berdiri.

“Eh, elu mo kemana?” tanya gue.

“Pindah. Elu ganggu konsentrasi gue aja sih…”

Gue cemberut. Bahkan sekarang Arie tak mau meladeni gue. Biasanya ia tak pernah mau mengalah. Hmmm, sebegitu besarkah pengaruh si Pai-Jo itu terhadap seisi kelas ini?

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: