Bianglala Satu Warna Chapter I

Chapter I

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Itu berarti genap tiga puluh menit keterlambatan Mam Nining hadir ke kelas untuk memberikan Les tambahan dalam rangka persiapan menghadapi UN bagi siswa SMA. Para siswa mulai terbawa suasana yang bebas. Bergerak ke sana-kemari, mengunjungi bangku teman-teman mereka. Bercanda, tertawa, bergosip dan segudang kegiatan lain khas anak remaja SMA.

“Mam nggak masuk ya?”tanya salah seorang siswi.

“Nggak tahu nih. Udah setengah jam lebihkan??”timpal yang lain.

“Moga aja dia nggak masuk. Biar kita bisa pulang cepat, hihihi…”sambung siswa yang berkuncir ekor kuda.

“Aminnn. Gue capek banget. Pengen cepat pulang, pengen tiduuurrr…”sahut teman sebelahnya.

“Kalo gitu kita pulang aja, yuk?”ajak si ekor kuda.

“Ayuk! Mau nggak? Mau nggak?”teman sebangkunya memprovokasi yang lain.

Tanpa argumen, sekumpulan siswi itu mengangguk. Lantas tanpa komando, mereka semua langsung kembali ke bangku masing-masing dan mengemasi seluruh
peralatan sekolah beserta alat kecantikan mereka.

“Yuk! Kita cab—”

“Good day, Everybody! Sorry, I’m late…”tiba-tiba sebuah suara meluncur dari ambang pintu.

Serentak seluruh siswa menoleh. Seorang pria muda berkemeja putih dengan dua kancing atas terbuka dipadu celana jeans dan sepatu pantofel berdiri di sana sambil tersenyum.

“Ini ruang 3C bukan?”Ia kembali membuka suara sambil mendongak ke atas, mencari-cari tulisan yang mengindikasikan bahwa ia tidak salah masuk ruangan.

“Iya, Bang…”serentak semua siswa menjawab.

Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melangkah menuju meja guru diikuti puluhan pasang mata para siswa yang penasaran akan sosok dirinya.

“Let me introduce myself. My name is Jo, Johan. I’ll teach you to replace your teacher, Miss Nining who gave birth,”katanya memperkenalkan diri.

Terdengar koor”ooo”yang meluncur dari bibir para siswa.

“Okey, do you have any questions?”

Para siswa terdiam. Para siswi mulai bersikap genit dan saling berbisik dengan teman sebangku mereka.

“Okey, Kalo nggak ada, kita langsung ke materi. Sudah sampai di mana materi pelajarannya?”tanya Mr. Jo lagi.

“Uhmmm… Ntar dulu dong, Mister…”sebuah suara manja terdengar dari deretan bangku belakang.

“Ya?” Mr. Jo memandang ke arah sumber suara. Seorang siswi ber-make-up lumayan tebal menegakkan bahunya.

“Mr. Jo, How old are you?”tanya si pemilik make-up tebal dengan lantang.

“Moduuussss…!!!”tiba-tiba sebuah celetukan meluncur dari deretan bangku tengah. Timpalannya langsung disambut gelak tawa oleh seisi ruangan sambil menoleh ke arah si pemilik make-up tebal.

Mr. Jo tersenyum simpul. “I am 21 years old, Lady. What’s else?”

“Wah, just 3 years old jarak kita, Mister…”balas si pemilik make-up tebal seraya tersipu malu. Sontak jawabannya langsung dihadiahi sorakan”huuu…”dari teman-temannya.

“Uhmm… Sweet seventeen, eh? What’s your name, Lady?”

“Mad girl! Cewek stress, Mister!”celetuk siswa bertampang cuek di seberangnya.

“Kenanga, Mister…”jawab si pemilik make-up tebal dengan lembut. Tapi sejurus kemudian langsung memasang tampang galak saat menjulurkan lidah ke arah siswa bertampang cuek.

“Kebagusan! Seharusnya bunga bangke nama elu!”celetuk siswa dari deretan depan. Celetukannya disambut gelak tawa.

“Eee… Sirik aja elu semua!”balas Kenanga.

“Kenanga cantik kok. Orang sama namanya memang pas,”komentar Mr. Jo.

Kenanga tersipu malu.

“Itu fitnah! Fitnah!”sahut yang lain.

Mr. Jo tersenyum. “Any question, boys and girls?”tanya Mr. Jo lagi seraya menyapu seisi kelas dengan pandangannya.

Para siswa terdiam dan menatap satu sama lain.

“Nggak ada lagi?”

Tiba-tiba dari bangku deretan kedua dari belakang, seorang siswa yang sedari tadi luput dari pandangan Mr. Jo mengacungkan tangannya.

“Yes. What’s your question?”

“Eng, no, mister. Saya mau izin ke luar…”balasnya dengan mimik wajah geli bercampur malu. Balasannya langsung disambut gelak tawa. Tak terkecuali Mr. Jo, yang menyunggingkan senyum geli.

“Yup. Please…”

Siswa itu mengangguk lalu berjalan keluar.

“Yang lain, apa masih ada pertanyaan?”

“Mikir dulu, Mister. Apa yaa???”siswa yang tempat duduknya terdekat dengan Mr. Jo menjawab.

Mr. Jo tersenyum. “Oke, silahkan pikirkan dulu pertanyaannya. Sekarang kita kembali ke materi. Sampai di mana terakhir pembahasan kalian?”

“Sampai Jenis-jenis teks, Mister.”

“Text genre?””Yes, Mister.”

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: