Bianglala Satu Warna Chapter Ic

Gue setengah berlari melintasi koridor yang sudah kosong. Gue telat.

“Mario!”

Gue menoleh. Mr. Jo tersenyum sambil berjalan santai di belakang gue.

“Ya, Mister?” tanya gue.

“Barengan aja. Nggak usah terburu-buru,” jawabnya.

Gue menyunggingkan senyum seraya berdiri menunggu Beliau menghampiri gue.

“Hari ini les kalian dipercepat. Cuma kelas kalian aja,” terang Mr. Jo.

“Iya, teman-teman sudah kasih tahu ke saya,” jawab gue.

“Kalian pasti pengen cepat pulang. Kebetulan hari ini saya nggak ke kampus, jadi bisa mengajar kalian lebih cepat,” katanya lagi sambil tersenyum.

Gue membalas senyumannya.

Sesampai di pintu kelas, gue menuju bangku gue, sementara Mr. Jo berjalan ke meja guru.

“Good Day, Everybody! How are you today?” sapa Mr. Jo dengan ramah.

“Fineeeee…” jawab seisi kelas dengan lemah.

Mr. Jo tertawa.

“Right? Kalian selalu menjawab fine setiap ditanya. Beneran nih?” katanya sambil mengerling dengan mimik lucu. Para siswa tersenyum malu-malu.

“Selain dengan fine, kita bisa menjawab dengan apa saja?”

“Very well,” jawab Lina.

“Yup. Bisa Very well, nice, good, atau kalo lagi kurang baik bisa menggunakan not good, not so good, sad… Jadi banyak variasinya. Kalo lagi sedih bisa bilang sad… Atau kalo lagi capek bisa jawab dengan a little bit tired, ya?”
“Yes, Mister…”

“Nah, kalo mau nanya keadaan teman nih, biasanya kita pakai how are you? Atau how are you doing, Friend? Gitukan? Bukan cuma itu aja lho, Adik-adik semua. Kalian bisa juga pake how have you been? Atau how are things doing? Atau yang pasti sering kalian ucapin, What’s up. What’s up, Bro? What’s up, Men? Cuma kalo yang what’s up ini digunakan untuk teman sebaya atau close friends. Jangan pake what’s up ke guru ya. Bisa digampar kalian, hehehe…”

Para siswa tertawa.

“Iya. Karena Mister bilang What’s up itu artinya apa kabar, terus waktu kalian ketemu guru di luar, atau kepala sekolah, langsung aja teriak, Hey, Mister, What’s up?! Nggak boleh. Nggak sopan, hehehe…”

Arie yang duduk di samping gue tergelak mendengar banyolan Mr. Jo.

“Kapan-kapan mau gue praktekkin ah!” kata Arie.

“Ke siapa?”

“Guru piket! Wkakaka…”

“Ke Pak Montezuma, Ya…” tantang gue.

Pak Montezuma—biasanya diplesetkan menjadi Montecarlo oleh anak-anak— termasuk dalam daftar guru tergalak di SMA gue.

“Kalo dari jauh sih, Hayooo…! Hihihi…”

“Siapa aja beranilah! Di depan hidungnya yang gue mau.”

“Imbalannya apa?”

“Elu maunya apa?”

“Elu.”

“Hah?”

Darah gue berdesir seketika mendengar jawaban Arie. Kemana nih arah pembicaraan kita?

“Maksud elu apa?” tanya gue seraya berusaha meredam degupan jantung gue.

“Gue mau Elu jadi pembokat gue sampai hari kelulusan!”

Brengsek. Itu maksudnya.

“Ogah!” jawab gue tegas sambil berusaha menahan laju kekecewaan yang melingkupi benak gue. Sial. Gue kepancing sama perasaan gue sendiri.

“Ya udah. Kalo gitu ngapain gue repot-repot memenuhi tantangan lu?”

“Ya udah! Nggak penting juga,” balas gue.

Arie terkekeh. Gue juga terkekeh.

“Fokus yuk. Mr. Jo udah mulai ngasih materi tuh,” kata Arie.

“Tumben lu mo fokus?”

“Sejak Mr. Jo yang ngajar. Enjoy!” jawab Arie santai.

Gue mangut-mangut.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: